Jumat, 31 Mei 2013

Nyawa Pemulung Diambang Seceguk Air Mineral


     Di bawah panasnya sinar mentari menyengat tajam, tiada sedikitpun mendung gelap kelabi yang menyelimuti bumi pertiwi nan indah, tampak seekor kucing berbulu putih cantik yang pulas dalam lelapnya di atas kursi, tanpa menghiraukan orang-orang yang sibuk lalu-lalang di sekitarnya. Berbeda 180 derajat dengan sesosok gadis cantik jelita yang kini tersengat panasnya matahari tepat lurus di atas kepala, sambil menahan cairan keringat yang tampak bercucuran dari tubuh berbody sexy itu. Terlihat gadis berambut panjang itu sedang duduk di kursi samping kucing manis itu terlelap. Tak henti-hentinya lembaran rupiah dalam dompetnya terus ia bolak-balik, memastikan jumlah nominalnya bertambah, atau bahkan berkurang. Nampak seorang wanita renta berjalan membungkuk di depan gadis cantik yang sedang duduk di atas kursi didekat kucing cantik itu telah nyenyak dalam lelapnya, dengan kondisi badan yang terlihat lelah, wajah yang diselimuti dengan kotornya debu jalanan kota.

      “Permisi mbak" wanita renta itu menyapa gadis manja yang sedang duduk di samping kucing bermata bulat yang tertidur di depan kiosnya.

      “Iya Ibu, ada yang bisa saya bantu bu ?” jawab gadis muda cantik itu dengan suara yang lembut bernada seperti pelayan café-café mewah di perkotaan.

      “Air mineral yang dingin masih ada mbak ?” Tanya kembali wanita renta itu kepada gadis cantik alami tanpa make-up itu.

      Tak sempat remaja perempuan itu menjawab pertanyaan si wanita renta, tiba-tiba datanglah seorang bocah kecil berbaju compang-camping mendekatinya dengan peluh bercampur penuh debu yang melekat diwajah tampannya, serambah berkata pada si gadis cantik itu dengan nada malang yang mengharapkan belas kasihan.

      “Mbak, saya minta air minum mbak, sayan kehausan, belum minum dari tadi pagi mbak” Pinta bocah itu sembari tangan di angkat di depan jidad menahan rasa panasnya badan tersengat sinar teriknya matahari siang.

      “ Maaf banget ya dek, air mineral mbak sudah habis dibeli sama ibu ini” jawab perawan cantik itu pada bocah kecil tampan yang terlihat kasihan itu.

       Karena mendengar jawab itu, bocah kecil itu meneteskan air mata, menahan rasa hausnya tenggorokan yang kering, tubuh diterpa panas teriknya matahari. Tiba-tiba wanita renta itu memotong percakapan serius antara si gadis cantik dan si bocah tampan itu.

     “Kamu kehausan nak ?” tanya singkat wanita renta pada bocah kecil itu.

     “Iya bu” jawab anak kecil berumuran 8 tahun itu. 

      Jawaban bocah kecil itu membuat gelisah hatinya si wanita renta, dan membuat rasa penasaran bertambah besar. Mata wanita renta bercucuran air kesedihan, melihat anak kecil itu. Tak sabar untuk ingin tahu tentang si kecil, wanita renta terus bertanya seakan polisi menyelidiki tersangka, sehingga rasa takut muncul pada si kecil tampan itu.

      “kamu aslinya mana ?” tanya kembali wanita renta sembari air mata itu menetes dari matanya.

      “Saya aslinya dari kota jombang bu” jawab anak kecil itu.

        Mendengar kota jombang saja, air mata wanita renta itu semakin menetes deras, karena teringat kota kelahirannya.

      “lah terus, mengapa kamu bisa berada disini sendirian?” tanya kembali si wanita renta itu. 

      Ditengah-tengah pembicaraan itu, mula-mula air tangis kembali menetes dari mata indah gadis cantik itu. Satu tetes demi satu tetes air kesedihan itu keluar, sambil mengeluarkan bunyi terisak dari tangisan itu, karena rasa kasihan itupun juga muncul pada sesosok gadis cantik jelita.

      “Saya dibuang kedua orang tua saya bu, sekarang mereka sudah mendahului saya” jawab bocah kecil itu setelah jatuhnya air mata dari mata sang gadis.

      “Ya sudah, saya belikan di seberang jalan dulu nak, tunggu sebentar ya” kata wanita renta pada bocah kecil yang dipanggilnya nak itu.

      “iya bu, makasih ya” sahut bocah itu.

      Dengan perasaan sangat kasihan, dan sifat wanita renta itu yang suka menolong, baik hati, tidak sombong, ia berbuat sesuatu yang tidak lazim. Kondisi badan yang tidak memungkinkan, wanita renta itu memaksakan dirinya untuk  menolong bocah kecil itu. Ia berjalan berbungkuk, langkah demi langkah yang menghasilkan pahala, wanita renta itu  mendekati aspal hitam jalan raya. Ia pun melangkahkan kaki kanannya dulu di atas jalan yang ramai akan kendaraan bermotor. Berbeda dengan gadis cantik jelita, yang hanya bisa melihat, ia terdiam tidak bergerak di tempat duduknya, ia juga harus menjaga kiosnya, tak hanya itu, ia juga menjaga si kucing yang sedang tidur terlelap di kursi.

       “Ibu, hati-hati ya” kata si gadis itu dengan suara lancang pada wanita renta yang sedang berjalan menyeberangi jalan raya.

        Belum sempat menoleh arah kanan kiri, tiba-tiba mobil berkecepatan tinggi melaju dari arah samping kanan wanita renta itu menyeberang, berkali-kali mobil mewah menyalakan suara klakson keras, fikiran pun kosong, wanita renta itu tak mempunyai reflek sempurnya untuk meyelamatkan dirinya, meskipun jarak mobil masih agak jauh.

       “Ibu, ibu, ibu” teriak gadis cantik dan bocah kecil tampan itu sambil menghampiri si wanita renta itu tergeletak.

        Setelah sampai di tempat tergeletaknya wanita renta itu, si gadis cantik memeriksa denyut nadi milik wanita renta, apakah masih bekerja ataukah sudah tidak. Melihat kondisi kepala yang bercucuran darah merah mengalir deras membasahi badan wanita renta itu, dan di tempat wanita itu pula, ia menghembuskan nafas terakhirnya. 


Mohammad Dendi Abdul Nasir (XI IPA 1)

Tidak ada komentar: