Selasa, 14 Mei 2013

Kemesraanmu Bersama Mahameru



            Suara deru mesin kereta itu dengan cepat menembus kesunyian malam di Pegunungan Gumitir Kabupaten Jember berbatasan dengan Kab.Banyuwangi.Membawa ratusan jiwa yang sedang berbahagia karena pulang dari tanah rantau. Kabut tipis pun perlahanan mulai menusuk masuk ke dalam kereta. Membuat bulu kuduk menahan kedinginan.Di Pegunungan Gumitir ini kereta harus melewatidua buah terowongan.Keduanya dibangun pada era penjajahan belanda.Dengan memanfaatkan kebodohan rakyat pada masa itu.Belanda memanfaatkan untuk melubangi sebuah gunung. Menjadikannya jalur alat transportasi yang disebut kereta api. Terowongan yang pertama dibangun pada tahun 1901 dengan panjang terowongan kurang lebih 2 km. sedangkan terowongan yang kedua dibangunpada tahun 1982 dengan panjang kurang lebih 800 meter.
            Mendekati bibir terowongan, suara mesin kereta semakin meraung-raung. Memuntahkan kepulan asap hitam ke angkasa. Menutupi ribuan sinar bintang yang begitu anggun.Menyaingi suara binatang malam yang meraung seram.Keadaan diluar sepertinya tak dihiraukan lagi oleh para penumpang.Mereka sibuk bercengkrama sepertinya tak dirasakan oleh Wahyu saat itu.Seorang remaja berumur 16 tahun yang merantau mengais ilmu di salah satu pondok pesantren ternama di daerah Jombang. Bisa disebutdia anak Banyuwangi asli karena kedua orangtuanya berasal dari kota Banyuwangi. Ia pulang kali ini karena ada kepentingan keluarga di rumah. Kakek dari ayahnya sedang sakit.
            Kehangatan tak bisa menyelimuti Wahyu malam itu. Tanpa seorang kawan pun ia coba resapi kedinginan malam itu seorang diri. Setelah kereta melewati 2 buah terowongan itu, Wahyu memutuskan untuk lebih dekat pada alam pegunungan Gumitir.Ia duduk bersila disebelah pintu seorang diri. Memandangi setiap jengkal tanah yang telah ia lewati dari Jombang tadi. Lamunannya merangsekmasuk menembus ke dalam hutan pegunungan Gumitir.Lamunan yang coba menerawang tentang kehidupannya, takdirnya, dan kematiannya.Ia coba terus menerawang lebih dalam, masuk ke dalam. Tapi sayang sekali ia tetap tak bisa. Semua itu telah dilindungi oleh tuhan yang Maha Tangguh melindungi segalanya.Akhirnya lamunan itu seiring berhentinya kereta di stasiun Rogojampi. Wahyu memang sengaja berhanti di stasiun itu, karena jarak rumah Wahyu lebih dekat dari Stasiun Rogojampi dari pada Stasiun Banyuwangi kota. Wahyu bergegas mengambil barang-barangnya didalam lalu kemudian beranjak meninggalkan kereta.
            Nampak disebelah pintu peron stasiun Nampak sosok yang mirip dengan Wahyu. Rambut agak keriting dengan hidung mancung dan postur badan yang sama dengan wahyu. Lelaki itu tampak memainkan matanya ke kiri dan ke kanan mencari sesorang.
            “Wahyu…” lelaki itu Nampak berteriak memanggil Wahyu.
            “Lo Mas…” Wahyu sempat herandengan suara yang tiba-tiba masuk pada telinganya.
            Laki-laki itu bernama Lukman, berumur 23 tahun, kakak kandung Wahyu.Dia baru menamatkan strata satu hukumnya di Universitas Ibrahimy satu tahun lalu.Dia sekarang sudah beristri dan memiliki seorang anak perempuan yang menggemaskan. Dan setelah menamatkan studynya kini ia bekerja di Kantor Urusan  Agama.
            “Bapak mana, mas?”Tanya wahyu kebingungan.
            “Bapak nggak bisa jemput.Datangmu terlalu larut malam, kasihan Bapak jemput malam-malam gini” jawab Lukman.
            “oh ya udah. Ayo pulang!” ajak Wahyu.
            “mau ngopi dulu apa langsung pulang?” tawar lukman.
            “pulang aja mas. Ngantuk aku,” jawab Wahyu seraya menahan kantuk.
            “ya udah. Ayo!”.
            Perjalanan 9 jam Wahyu dari kota jombang sampai kota Banyuwangi akhirnya berakhir. Hilang sudah lamunan yang sempat menyelimuti Wahyu bersama kantuk yang kinitak tertahankan.Dirumah seluruh keluarga sudah bermain bersama mimpi-mimpi. Dan kini gengan badan yang luar biasa capek Wahyu bersungkur dalam kasur empuknya dan mulai terlelap.
~ ~ ~

            Suara ayam yang berkokok di belakang rumah Wahyu tak bisa membangunkan Wahyu dari rasa lelapnya.Suara muadzin dari masjid yang berjarak 100 meter dari rumahnya pun tak juga bisa membangunkannya.Hanya Bapaknya yang dengan telaten membangunkan Wahyu dari setiap mimpi yang menghanyutkannya dalm lelap.Perlahan sayup-sayup terdengar suara itu masukke dalam telinga Wahyu.
            “Wahyu… wahyu… bangun!Sholat shubuh dulu!” dengan halus suara itu membangunkan Wahhyu.
            “Iya pak…” agak malas Wahyu memaksa membangunkan tubuhnya.
            “tadi malam sampai jam berapa yu?” Tanya Bapak sambil berusaha membangkitkan kesadaran Wahyu.
            “jam sepuluh, pak!” jawab Wahyu lirih.
            Hanya guguran air dipagi itu yang bisa menyadarkan Wahyu sepenuhnya. Tiba-tiba ia tersadar bahwa dua hari lagi tepat pada tanggal 19 Mei 2013 umurnya bertambah menjadi 17 tahun. Dalam doanya selepas sholat ia tak meminta apa-apa pada ulang tahunnya kali ini, kecuali dia hanya memohon diberikan yang terbaik diusianya yang ke-17 ini. Ia mengeluh mengapa semakin lama semakin berantakan dunia ini. Persoalan yang mendera hidupnya pun kian rumit. Di acara berita pagi itu ia melihat presiden sedang menjamu tamunya dari luar negeri. Sementara 200 meter dari rumah, Wahyu sering melihat orang mengais makan dari tempat sampah.
            “Wahyu…”suara Bapak memanggil Wahyu.
            “Iya, Pak.”
            “Nanti jam tujuh kita beraangkat ke rumah mbah kakung ya,” ujar Bapak.
            “Iya Pak.”
            Jarak rumah Wahyu dengan mbah kakunya cukup jauh oleh karena itu bapak memilih berangkat agak pagi supaya masih tersisa waktu lama untuk bercengkerama di sana. Perjalanan Wahyu sekeluarga menggunakan dua buah sepeda motor. Bapak boncengan sama ibu, sedangkan Wahyu dengan Lukman. Istri Lukman sendiri tak ikutkarena menjaga anaknya yang masih kecil.Perjalanan ditempuh selama waktu tiga jam.Berangkat pukul tujuh dan sampai pukul sepuluh.Nampak taka ada seorang pun di ruang tamu.Karena mbah kakung sedang sakit, maka seluruh keluarga berkumpul di samping mbah kakung.
            “Assalamu’alaikum…”Bapak memasuki kamar sambil mengucap salam. Begitu juga ibu, Wahyu dan Lukman mengikuti dari belakang.
            “Wa’alaikum salam…”jawab mbah putri dengan lirih.
“Ini dia cucu-cucuku sudah datang.Ayo kemari.”ujar mbah putri.
Satu persatu dari mereka pun masuk dan bersalaman dengan mbah kakung dan mbah putri.
“bagaimana keadaan bapak, Bu?”kata Bapak kepada mbah putri.
“Alhamdulillah sudah mendingan.Bapakmu sudah mulai doyan makan.”jawab mbah putri.
“Alhamdulillah bu.”timpal bapak.
“Wahyu, bagaimana mondokmu?Kerasan?”Tanya mbah putri kepada Wahyu.
“Alhamdulillah kerasan mbah.”
“Kalau Lukman ini nggak usah ditanya kerjanya.Pasti lancer lah…”gurau mbah putri.
“Hehe…iya mbah…”jawab Lukman agak malu-malu.
Perbincangan mereka lanjutkan di ruang tengah agar lebih santai sembari menonton televise. Wahyu yang agak tak mengerti dalam pembicaraan orang tuanya memilih untuk tidur. Sementara Lukman melanjutkan pekerjaannya menonton televise.
“Yu, bangun, kamu itu diajak jenguk mbah malah tidur.”celetuk Lukman membangunkan Wahyu.
“Iya,iya, ma’af. Habis capek banget aku..”
“ya sudah, kalian berdua berpamitan sama mbah, terus kita pulang.”kata ibu.
“Iya.”kata mereka hampir bersamaan.
Karena hari sudah menunjukkan pukul setengah empat, mereka pun pamitan kemudian beranjak meninggalkan mbah kakung.Perjalanan mereka ditemani dengan mega senja yang begitu indah.Berwarna merah kekuning-kuningan.pada suatu persimpangan dan ketika lampu sedang merah tiba-tiba Lukman mengatakan sesuatu kepada Bapak.
“Pak, nanti kami tidak langnsung pulang.Mau ngopi dulu.”
“Iya, tapi pulangnnya jangan malam-malam.”kata Bapak.
“Iya, Pak.”jawab Wahyu dan Lukman hampir bersamaan.
Mereka pun berpisah, ibu dan bapak pulang sedangkan Wahyu dan Lukman melanjutkan malam dengan nongkrong di warung kopi.Segera Lukman memarkirkan sepedanya di salah satu warung kopi pinggir jalan.
“Pesan kopi apa Yu?”Tanya Lukman.
“Kopi hitam biasa aja Mas.”jawab Wahyu.
“Mas, kopi hitam satu, kopi susu satu.”Lukman memesan kopi kepada pelayan.
Setelah kopi tersedia di hadapan mereka, perbincangan ngalor ngidul pun dimulai.Dan layaknya adik kakak pada umunya perbincangan mereka tak luput dari gurauan.Lukman yang sejak kecil sering menggoda Wahyu sampai sekarang Wahyu sudah beranjak remaja, masih suka menggoda Wahyu.Guarauan mereka terpotong oleh perkataan Wahyu yang mengutarakan keinginannya.
“Mas, dua hari lagi kan aku berulang tahun yang ke tujuh belas. Di ulang tahunku ini aku ingin kado yang beda Mas. Aku ingin muncak ke semeru.Bagaimana?”Wahyu mulai mengutarakan keinginannya.
“Semeru?Kalau aku siap-siap saja nemenin kamu. Tapi izin dulu sama Bapak,”jawab lukman.
“Masalah izin gampang.Kalau gitu kapan kita berangkat?”
“Besok pagi kita langsung berangkat!!!”tantang Lukman.
“Oke.”
Kemudian perbincangan mereka lanjutkan dengan obrolan yang ringan dan juga persiapan yang harus disiapkan sebelum ke semeru.Tak terasa perbincangan mereka cukup memakan waktu lama.Dan tak sadar, malam pun semakin larut. Pesan kedua orang tua mereka tadi  membawa mereka pulang ke rumah.
Setibanya di rumah tanpa basa basi Wahyu langsung menghampiri Bapak yang sedang menonton televisi.
“Pak, ulang tahunku ini aku mau ke Semeru sama Mas Lukman.” Wahyu meminta izin kepada Bapak.
“Kapan ulang tahunmu?”
“Dua hari lagi Pak, besok berangkat ke semeru.”
“Oh, iya, Bapak lupa.Apa nggak terlalu tinggi semeru itu? Kenapa nggak ke gunung-gunung saja?”ujar Bapak.
“Nggak, pak. Wahyu ingin yang istimewa di ulang tahun Wahyu ini.Lagian udah ada Mas Lukman yang jagain Wahyu.”jawab Wahyu.
“Iya sudah kalau begitu.Sepertinya keinginanmu sudah bulat.Tapi ingat harus selalu hati-hati.Ingat apa saja perkataan dari masmu.”timpal Bapak.
“Baik, Pak. Terima kasih.”
“mungkin ini yang terakhir, Pak. Setelah ini mungkin nggak kemana-mana lagi.. capek Pak, ternyata. Tambah Wahyu.
“Iya, pokoknya besok waktu di sana ingat terus omongan dari masmu ya,”ujar Bapak.
“Iya.”
Malam ini digunakan oleh Wahyu untuk mempersiapkan semua yang akan dibawa besok. Mulai dari perbekalan sampai peralatan penunjang lainnya.Sedangkan Lukman yang memang pernah ke semeru terlihat tak terlalu menampakkan kegelisahannya. Malam ini istirahat total mereka butuhkan, sehingga setelah semua persiapan selesai mereka masuk kamar masing-masing lalu beristirahat.
~ ~ ~
“udah nyampek nih!” ujar Lukman.
“ini dimana mas?” tanya Wahyu.
“Ranupani, pos pertama.Nanti sepedah kita parkir disini kemudian kita jalan ke Ranukumbolo.Pos kedua, disana kita istirahat sebentar.Setelah itu jalan lagi ke Arcopodo, pos terakhir sebelum sampai di puncak Mahameru,” jelas Lukman panjang lebar.
Waktu memang masih menunjukkan pukul 11.Tapi mereka harus bergegas, karena takut terlalu malam sampai di Arcopodo.
“udah siap?” tanya Lukman.
“udah!”
“ayo berangkat!”
Perjalanan selama 6 jam menuju Ranukumbolo mereka isi dengan perbincangan sembari menghilangkan rasa lelah. Di sini mata dijamin tidak akan bosan, karena mata disuguhi pemandangan yang luar biasa. Bukit-bukit menjulang, padang sauna juga tak ketinggalan bunga eidleweise yang menemani sepanjang sisi jalan yang mereka lalui. Jika Wahyu berhasil menginjakkan kakinya di puncak tertinggi pulau Jawa, maka ini akan menjadi hari ulang tahun terhebatnya. Tidak terasa enam jam yang panjang telah mereka lalui. Kini Danau Ranukumbolo menyapa mereka.
“Istirahat dulu di sini…”ujar Lukman.
“Kamu lapar nggak?”tambahnya.
“Lapar mas, tapi nggak seberapa.”jawab Wahyu.
“Ya udah, makan ini cokelat, selain penghangat badan, juga pengganjal perut.Kita makan nanti di Arcopodo.”kata Lukman.
“Ya.”
Ranukumbolo, pos kedua menuju puncak Mahameru.Di sini terdapat danau vulkanik.Walaupun berada di ketinggian 2600 m dpl.Tapi airnya terasa hangat.Karena airnya merupakan sisa letusan semeru yang terdahulu dan terkena air hujan, jadi airnya terasa hangat.
Perjalanan mereka lanjutkan menuju pos terakhir Mahameru, Arcopodo. Selama kurang lebih 4 jam perjalanan mereka ke Arcopodo, perjalanan di malam hari. Tentu saja ini semakin berat dengan turunnya suhu hingga mencapai lima derajat celcius. Penutup kepala dan sarung tangan mereka pakai.Namun kedinginan tetap menusuk sampai ke tulang hingga Wahyu mengalami kedinginan hebat.
“kamu nggak apa-apa?” Tanya lukman cemas.
“dingin sekali mas,” ujar Wahyu terbata-bata menahan dingin yang luar biasa.
“sini! Kita berpelukan, supaya berkurang rasa dinginnya,” Lukman menarik tubuh Wahyu.
Suhu yang ekstrim memang sering terjadi di Semeru, karena cuaca atau perubahan arah angin yang tiba-tiba.Dengan sedikit memaksa dan perlahan-lahan mereka melanjutkan perjalanan.Hingga sampailah mereka di Arcopodo. Tak menunggu lama, Lukman segera membuat api unggun dan memberi sebatang coklat untuk Wahyu. Kemudian dia dngan cekatan mendirikan tenda dibantu dengan pendaki lain yang sedang istirahat disana.
“temannya kenapa mas?” Tanya salah satu pendaki.
“tadi habis kedinginan hebat mas!” ujar Lukman.
“Ia harus cepat ditolong itu!” kata pendaki itu.
“sudah mas!”
“kira-kira nanti malam ke puncak aman nggak mas?” tambah lukman.
“ini tadi ada informasi, ada asap kawah mengarah kesini mas. Agak tebal sih katanya.Tapi lihat nanti malam saja arah anginnya gimana,” jawab pendaki itu.
“terimakasih mas!”
“sama-sama”.
Sementara itu suhu tubuh Wahyu sudah mulai membaik. Dia tak pernah menjauhkan badannya dari api unggun.
“tadi aku tanya ke mas itu, katanya malam ini akan ada asap. Tapi lihat dulu arah anginnya. Biasanya jam sembilan sudah kelihatan kemana arah anginnya. Bagaimana kita lanjut apa tidak? ” ujar Lukman pada Wahyu.
“lanjut aja mas. Nanggung udah nyampek sini,” kata Wahyu.
“ya sudah. Sekarang ayo istirahat,” ajak Lukman.
Wahyu pun tak menjawab, ia langsung masuk kedalam tenda.
Setelah semua yang ada di Arcopodo terlelap, malapetaka itu datang.Asap beracun semeru turun dengan cepat melalui Arcopodo. Lukman yang merasakan hal itu terbangun, menyambar dengan cepat sapu tangannya untuk menutupi hidung dan mulutnya.Sementara Wahyu masih terbatuk-batuk.Dicarinya sapu tangan miliknya, namun tak juga ditemukan.Lukman yang membantu mencari juga tak menemukannya.Nafas Wahyu mulai sesak, oksigen di paru-parunya telah teracuni oleh asap itu.
“kamu nggak kenapa-kenapa?” tanya Lukman.
“se…sak…ma…ss…” suara Wahyu semakin sesak.
Lukman keluar tenda berusaha mencari bantuan, namun pemandangan yang dilihatnya sama dengan apa yang dialami olehnya dan adiknya.ketika mereka ditanya ada yang punya masker atau sapu tangan, jawaban mereka sama, “sudah dipakai mas.” Begitu sangat marah dan kecewa Lukman malam itu. Setelah usahanya dikira tak membuahkan hasil, ia kembali kedalam tenda.
Begitu menyesalnya Lukman ketika ia kembali, adiknya wahyu sudah semakin tak berdaya.
“ma…sss…” dengan terbata Wahyu memanggil kakaknya.
“iya yu…” Lukman menitikan air mata.
“biarkan ini menjadi kemesraanku bersama semeru. Semeru tak bersalah.Ini adalah keinginanku.Dan jika kita sudah berkeinginan dan berusaha, kematian pun tak dapat menghentikannya.Semeru akan cinta padamu, seperti aku cinta pada keindahan hidup,” dengan memaksa Wahyu mengucapkan kata terakhirnya malam itu.
Tepat pukul sebelas malam 18 Mei 2013,sehari sebelum hari ulangtahunnya. Wahyu menghembus nafas terakhirnya di pangkuan kakaknya.Sebuah perjuangan yang berakhir. Setelah asap itu reda, Lukman bersama pendaki lain yang menolongnya membawa jenazah wahyu turun ke Ranupani, menerjang dinginnya udara malam itu. Mahameru berduka malam itu.Kehilangan sosok kekasih yang merindu akan puncaknya. Mahameru berduka.Mahameru menahan tangis.
~ ~ ~
Satu tahun kemudian…
“mengheningkan cipta selesai!” salah satu pemimpin rombongan itu selesai memimpin doa didepan salah satu prasasti di Arcopodo. Prasasti itu bertuliskan:
“kekasih yang dirindukan Mahameru”
Wahyu Fadhli Pribadi
Lahir : 19 Mei 1996
Wafat : 18 Mei 2013
Rombongan itu merupakan kawan-kawan Wahyu dari Jombang.Setelah mereka lulus, sengaja mereka ingin mengenang salah satu sahabat terbaik mereka. Selamat jalan… kemesraanmu bersama Mahameru akan selalu dikenang.



By: Wahyu Fadhli Pribadi

Tidak ada komentar: