Suara
deru mesin kereta itu dengan cepat menembus kesunyian malam di Pegunungan
Gumitir Kabupaten Jember berbatasan dengan Kab.Banyuwangi.Membawa ratusan jiwa
yang sedang berbahagia karena pulang dari tanah rantau. Kabut tipis pun
perlahanan mulai menusuk masuk ke dalam kereta. Membuat bulu kuduk menahan
kedinginan.Di Pegunungan Gumitir ini kereta harus melewatidua buah
terowongan.Keduanya dibangun pada era penjajahan belanda.Dengan memanfaatkan
kebodohan rakyat pada masa itu.Belanda memanfaatkan untuk melubangi sebuah
gunung. Menjadikannya jalur alat transportasi yang disebut kereta api.
Terowongan yang pertama dibangun pada tahun 1901 dengan panjang terowongan
kurang lebih 2 km. sedangkan terowongan yang kedua dibangunpada tahun 1982
dengan panjang kurang lebih 800 meter.
Mendekati
bibir terowongan, suara mesin kereta semakin meraung-raung. Memuntahkan kepulan
asap hitam ke angkasa. Menutupi ribuan sinar bintang yang begitu
anggun.Menyaingi suara binatang malam yang meraung seram.Keadaan diluar
sepertinya tak dihiraukan lagi oleh para penumpang.Mereka sibuk bercengkrama
sepertinya tak dirasakan oleh Wahyu saat itu.Seorang remaja berumur 16 tahun
yang merantau mengais ilmu di salah satu pondok pesantren ternama di daerah
Jombang. Bisa disebutdia anak Banyuwangi asli karena kedua orangtuanya berasal
dari kota Banyuwangi. Ia pulang kali ini karena ada kepentingan keluarga di
rumah. Kakek dari ayahnya sedang sakit.
Kehangatan
tak bisa menyelimuti Wahyu malam itu. Tanpa seorang kawan pun ia coba resapi
kedinginan malam itu seorang diri. Setelah kereta melewati 2 buah terowongan
itu, Wahyu memutuskan untuk lebih dekat pada alam pegunungan Gumitir.Ia duduk
bersila disebelah pintu seorang diri. Memandangi setiap jengkal tanah yang
telah ia lewati dari Jombang tadi. Lamunannya merangsekmasuk menembus ke dalam
hutan pegunungan Gumitir.Lamunan yang coba menerawang tentang kehidupannya,
takdirnya, dan kematiannya.Ia coba terus menerawang lebih dalam, masuk ke
dalam. Tapi sayang sekali ia tetap tak bisa. Semua itu telah dilindungi oleh
tuhan yang Maha Tangguh melindungi segalanya.Akhirnya lamunan itu seiring
berhentinya kereta di stasiun Rogojampi. Wahyu memang sengaja berhanti di
stasiun itu, karena jarak rumah Wahyu lebih dekat dari Stasiun Rogojampi dari
pada Stasiun Banyuwangi kota. Wahyu bergegas mengambil barang-barangnya didalam
lalu kemudian beranjak meninggalkan kereta.
Nampak
disebelah pintu peron stasiun Nampak sosok yang mirip dengan Wahyu. Rambut agak
keriting dengan hidung mancung dan postur badan yang sama dengan wahyu. Lelaki
itu tampak memainkan matanya ke kiri dan ke kanan mencari sesorang.
“Wahyu…”
lelaki itu Nampak berteriak memanggil Wahyu.
“Lo
Mas…” Wahyu sempat herandengan suara yang tiba-tiba masuk pada telinganya.
Laki-laki
itu bernama Lukman, berumur 23 tahun, kakak kandung Wahyu.Dia baru menamatkan
strata satu hukumnya di Universitas Ibrahimy satu tahun lalu.Dia sekarang sudah
beristri dan memiliki seorang anak perempuan yang menggemaskan. Dan setelah
menamatkan studynya kini ia bekerja di Kantor Urusan Agama.
“Bapak
mana, mas?”Tanya wahyu kebingungan.
“Bapak
nggak bisa jemput.Datangmu terlalu larut malam, kasihan Bapak jemput
malam-malam gini” jawab Lukman.
“oh
ya udah. Ayo pulang!” ajak Wahyu.
“mau
ngopi dulu apa langsung pulang?” tawar lukman.
“pulang
aja mas. Ngantuk aku,” jawab Wahyu seraya menahan kantuk.
“ya
udah. Ayo!”.
Perjalanan
9 jam Wahyu dari kota jombang sampai kota Banyuwangi akhirnya berakhir. Hilang
sudah lamunan yang sempat menyelimuti Wahyu bersama kantuk yang kinitak tertahankan.Dirumah
seluruh keluarga sudah bermain bersama mimpi-mimpi. Dan kini gengan badan yang
luar biasa capek Wahyu bersungkur dalam kasur empuknya dan mulai terlelap.
~ ~ ~
Suara
ayam yang berkokok di belakang rumah Wahyu tak bisa membangunkan Wahyu dari
rasa lelapnya.Suara muadzin dari masjid yang berjarak 100 meter dari rumahnya
pun tak juga bisa membangunkannya.Hanya Bapaknya yang dengan telaten
membangunkan Wahyu dari setiap mimpi yang menghanyutkannya dalm lelap.Perlahan
sayup-sayup terdengar suara itu masukke dalam telinga Wahyu.
“Wahyu…
wahyu… bangun!Sholat shubuh dulu!” dengan halus suara itu membangunkan Wahhyu.
“Iya
pak…” agak malas Wahyu memaksa membangunkan tubuhnya.
“tadi
malam sampai jam berapa yu?” Tanya Bapak sambil berusaha membangkitkan
kesadaran Wahyu.
“jam
sepuluh, pak!” jawab Wahyu lirih.
Hanya
guguran air dipagi itu yang bisa menyadarkan Wahyu sepenuhnya. Tiba-tiba ia
tersadar bahwa dua hari lagi tepat pada tanggal 19 Mei 2013 umurnya bertambah
menjadi 17 tahun. Dalam doanya selepas sholat ia tak meminta apa-apa pada ulang
tahunnya kali ini, kecuali dia hanya memohon diberikan yang terbaik diusianya
yang ke-17 ini. Ia mengeluh mengapa semakin lama semakin berantakan dunia ini.
Persoalan yang mendera hidupnya pun kian rumit. Di acara berita pagi itu ia
melihat presiden sedang menjamu tamunya dari luar negeri. Sementara 200 meter
dari rumah, Wahyu sering melihat orang mengais makan dari tempat sampah.
“Wahyu…”suara
Bapak memanggil Wahyu.
“Iya,
Pak.”
“Nanti
jam tujuh kita beraangkat ke rumah mbah kakung ya,” ujar Bapak.
“Iya
Pak.”
Jarak
rumah Wahyu dengan mbah kakunya cukup jauh oleh karena itu bapak memilih
berangkat agak pagi supaya masih tersisa waktu lama untuk bercengkerama di
sana. Perjalanan Wahyu sekeluarga menggunakan dua buah sepeda motor. Bapak
boncengan sama ibu, sedangkan Wahyu dengan Lukman. Istri Lukman sendiri tak
ikutkarena menjaga anaknya yang masih kecil.Perjalanan ditempuh selama waktu
tiga jam.Berangkat pukul tujuh dan sampai pukul sepuluh.Nampak taka ada seorang
pun di ruang tamu.Karena mbah kakung sedang sakit, maka seluruh keluarga
berkumpul di samping mbah kakung.
“Assalamu’alaikum…”Bapak
memasuki kamar sambil mengucap salam. Begitu juga ibu, Wahyu dan Lukman
mengikuti dari belakang.
“Wa’alaikum
salam…”jawab mbah putri dengan lirih.
“Ini
dia cucu-cucuku sudah datang.Ayo kemari.”ujar mbah putri.
Satu
persatu dari mereka pun masuk dan bersalaman dengan mbah kakung dan mbah putri.
“bagaimana
keadaan bapak, Bu?”kata Bapak kepada mbah putri.
“Alhamdulillah
sudah mendingan.Bapakmu sudah mulai doyan makan.”jawab mbah putri.
“Alhamdulillah
bu.”timpal bapak.
“Wahyu,
bagaimana mondokmu?Kerasan?”Tanya mbah putri kepada Wahyu.
“Alhamdulillah
kerasan mbah.”
“Kalau
Lukman ini nggak usah ditanya kerjanya.Pasti lancer lah…”gurau mbah putri.
“Hehe…iya
mbah…”jawab Lukman agak malu-malu.
Perbincangan
mereka lanjutkan di ruang tengah agar lebih santai sembari menonton televise.
Wahyu yang agak tak mengerti dalam pembicaraan orang tuanya memilih untuk
tidur. Sementara Lukman melanjutkan pekerjaannya menonton televise.
“Yu,
bangun, kamu itu diajak jenguk mbah malah tidur.”celetuk Lukman membangunkan
Wahyu.
“Iya,iya,
ma’af. Habis capek banget aku..”
“ya
sudah, kalian berdua berpamitan sama mbah, terus kita pulang.”kata ibu.
“Iya.”kata
mereka hampir bersamaan.
Karena
hari sudah menunjukkan pukul setengah empat, mereka pun pamitan kemudian
beranjak meninggalkan mbah kakung.Perjalanan mereka ditemani dengan mega senja
yang begitu indah.Berwarna merah kekuning-kuningan.pada suatu persimpangan dan
ketika lampu sedang merah tiba-tiba Lukman mengatakan sesuatu kepada Bapak.
“Pak,
nanti kami tidak langnsung pulang.Mau ngopi dulu.”
“Iya,
tapi pulangnnya jangan malam-malam.”kata Bapak.
“Iya,
Pak.”jawab Wahyu dan Lukman hampir bersamaan.
Mereka
pun berpisah, ibu dan bapak pulang sedangkan Wahyu dan Lukman melanjutkan malam
dengan nongkrong di warung kopi.Segera Lukman memarkirkan sepedanya di salah
satu warung kopi pinggir jalan.
“Pesan
kopi apa Yu?”Tanya Lukman.
“Kopi
hitam biasa aja Mas.”jawab Wahyu.
“Mas,
kopi hitam satu, kopi susu satu.”Lukman memesan kopi kepada pelayan.
Setelah
kopi tersedia di hadapan mereka, perbincangan ngalor ngidul pun dimulai.Dan
layaknya adik kakak pada umunya perbincangan mereka tak luput dari gurauan.Lukman
yang sejak kecil sering menggoda Wahyu sampai sekarang Wahyu sudah beranjak
remaja, masih suka menggoda Wahyu.Guarauan mereka terpotong oleh perkataan
Wahyu yang mengutarakan keinginannya.
“Mas,
dua hari lagi kan aku berulang tahun yang ke tujuh belas. Di ulang tahunku ini
aku ingin kado yang beda Mas. Aku ingin muncak ke semeru.Bagaimana?”Wahyu mulai
mengutarakan keinginannya.
“Semeru?Kalau
aku siap-siap saja nemenin kamu. Tapi izin dulu sama Bapak,”jawab lukman.
“Masalah
izin gampang.Kalau gitu kapan kita berangkat?”
“Besok
pagi kita langsung berangkat!!!”tantang Lukman.
“Oke.”
Kemudian
perbincangan mereka lanjutkan dengan obrolan yang ringan dan juga persiapan
yang harus disiapkan sebelum ke semeru.Tak terasa perbincangan mereka cukup
memakan waktu lama.Dan tak sadar, malam pun semakin larut. Pesan kedua orang
tua mereka tadi membawa mereka pulang ke
rumah.
Setibanya
di rumah tanpa basa basi Wahyu langsung menghampiri Bapak yang sedang menonton
televisi.
“Pak,
ulang tahunku ini aku mau ke Semeru sama Mas Lukman.” Wahyu meminta izin kepada
Bapak.
“Kapan
ulang tahunmu?”
“Dua
hari lagi Pak, besok berangkat ke semeru.”
“Oh,
iya, Bapak lupa.Apa nggak terlalu tinggi semeru itu? Kenapa nggak ke
gunung-gunung saja?”ujar Bapak.
“Nggak,
pak. Wahyu ingin yang istimewa di ulang tahun Wahyu ini.Lagian udah ada Mas
Lukman yang jagain Wahyu.”jawab Wahyu.
“Iya
sudah kalau begitu.Sepertinya keinginanmu sudah bulat.Tapi ingat harus selalu
hati-hati.Ingat apa saja perkataan dari masmu.”timpal Bapak.
“Baik,
Pak. Terima kasih.”
“mungkin
ini yang terakhir, Pak. Setelah ini mungkin nggak kemana-mana lagi.. capek Pak,
ternyata. Tambah Wahyu.
“Iya,
pokoknya besok waktu di sana ingat terus omongan dari masmu ya,”ujar Bapak.
“Iya.”
Malam
ini digunakan oleh Wahyu untuk mempersiapkan semua yang akan dibawa besok.
Mulai dari perbekalan sampai peralatan penunjang lainnya.Sedangkan Lukman yang
memang pernah ke semeru terlihat tak terlalu menampakkan kegelisahannya. Malam
ini istirahat total mereka butuhkan, sehingga setelah semua persiapan selesai
mereka masuk kamar masing-masing lalu beristirahat.
~ ~ ~
“udah
nyampek nih!” ujar Lukman.
“ini
dimana mas?” tanya Wahyu.
“Ranupani,
pos pertama.Nanti sepedah kita parkir disini kemudian kita jalan ke Ranukumbolo.Pos
kedua, disana kita istirahat sebentar.Setelah itu jalan lagi ke Arcopodo, pos
terakhir sebelum sampai di puncak Mahameru,” jelas Lukman panjang lebar.
Waktu
memang masih menunjukkan pukul 11.Tapi mereka harus bergegas, karena takut
terlalu malam sampai di Arcopodo.
“udah
siap?” tanya Lukman.
“udah!”
“ayo
berangkat!”
Perjalanan
selama 6 jam menuju Ranukumbolo mereka isi dengan perbincangan sembari
menghilangkan rasa lelah. Di sini mata dijamin tidak akan bosan, karena mata
disuguhi pemandangan yang luar biasa. Bukit-bukit menjulang, padang sauna juga
tak ketinggalan bunga eidleweise yang menemani sepanjang sisi jalan yang mereka
lalui. Jika Wahyu berhasil menginjakkan kakinya di puncak tertinggi pulau Jawa,
maka ini akan menjadi hari ulang tahun terhebatnya. Tidak terasa enam jam yang
panjang telah mereka lalui. Kini Danau Ranukumbolo menyapa mereka.
“Istirahat
dulu di sini…”ujar Lukman.
“Kamu
lapar nggak?”tambahnya.
“Lapar
mas, tapi nggak seberapa.”jawab Wahyu.
“Ya
udah, makan ini cokelat, selain penghangat badan, juga pengganjal perut.Kita
makan nanti di Arcopodo.”kata Lukman.
“Ya.”
Ranukumbolo,
pos kedua menuju puncak Mahameru.Di sini terdapat danau vulkanik.Walaupun
berada di ketinggian 2600 m dpl.Tapi airnya terasa hangat.Karena airnya
merupakan sisa letusan semeru yang terdahulu dan terkena air hujan, jadi airnya
terasa hangat.
Perjalanan
mereka lanjutkan menuju pos terakhir Mahameru, Arcopodo. Selama kurang lebih 4
jam perjalanan mereka ke Arcopodo, perjalanan di malam hari. Tentu saja ini
semakin berat dengan turunnya suhu hingga mencapai lima derajat celcius.
Penutup kepala dan sarung tangan mereka pakai.Namun kedinginan tetap menusuk
sampai ke tulang hingga Wahyu mengalami kedinginan hebat.
“kamu
nggak apa-apa?” Tanya lukman cemas.
“dingin
sekali mas,” ujar Wahyu terbata-bata menahan dingin yang luar biasa.
“sini!
Kita berpelukan, supaya berkurang rasa dinginnya,” Lukman menarik tubuh Wahyu.
Suhu
yang ekstrim memang sering terjadi di Semeru, karena cuaca atau perubahan arah
angin yang tiba-tiba.Dengan sedikit memaksa dan perlahan-lahan mereka
melanjutkan perjalanan.Hingga sampailah mereka di Arcopodo. Tak menunggu lama,
Lukman segera membuat api unggun dan memberi sebatang coklat untuk Wahyu.
Kemudian dia dngan cekatan mendirikan tenda dibantu dengan pendaki lain yang
sedang istirahat disana.
“temannya
kenapa mas?” Tanya salah satu pendaki.
“tadi
habis kedinginan hebat mas!” ujar Lukman.
“Ia
harus cepat ditolong itu!” kata pendaki itu.
“sudah
mas!”
“kira-kira
nanti malam ke puncak aman nggak mas?” tambah lukman.
“ini
tadi ada informasi, ada asap kawah mengarah kesini mas. Agak tebal sih
katanya.Tapi lihat nanti malam saja arah anginnya gimana,” jawab pendaki itu.
“terimakasih
mas!”
“sama-sama”.
Sementara
itu suhu tubuh Wahyu sudah mulai membaik. Dia tak pernah menjauhkan badannya
dari api unggun.
“tadi
aku tanya ke mas itu, katanya malam ini akan ada asap. Tapi lihat dulu arah
anginnya. Biasanya jam sembilan sudah kelihatan kemana arah anginnya. Bagaimana
kita lanjut apa tidak? ” ujar Lukman pada Wahyu.
“lanjut
aja mas. Nanggung udah nyampek sini,” kata Wahyu.
“ya
sudah. Sekarang ayo istirahat,” ajak Lukman.
Wahyu
pun tak menjawab, ia langsung masuk kedalam tenda.
Setelah
semua yang ada di Arcopodo terlelap, malapetaka itu datang.Asap beracun semeru
turun dengan cepat melalui Arcopodo. Lukman yang merasakan hal itu terbangun,
menyambar dengan cepat sapu tangannya untuk menutupi hidung dan
mulutnya.Sementara Wahyu masih terbatuk-batuk.Dicarinya sapu tangan miliknya,
namun tak juga ditemukan.Lukman yang membantu mencari juga tak
menemukannya.Nafas Wahyu mulai sesak, oksigen di paru-parunya telah teracuni
oleh asap itu.
“kamu
nggak kenapa-kenapa?” tanya Lukman.
“se…sak…ma…ss…”
suara Wahyu semakin sesak.
Lukman
keluar tenda berusaha mencari bantuan, namun pemandangan yang dilihatnya sama
dengan apa yang dialami olehnya dan adiknya.ketika mereka ditanya ada yang
punya masker atau sapu tangan, jawaban mereka sama, “sudah dipakai mas.” Begitu
sangat marah dan kecewa Lukman malam itu. Setelah usahanya dikira tak
membuahkan hasil, ia kembali kedalam tenda.
Begitu
menyesalnya Lukman ketika ia kembali, adiknya wahyu sudah semakin tak berdaya.
“ma…sss…”
dengan terbata Wahyu memanggil kakaknya.
“iya
yu…” Lukman menitikan air mata.
“biarkan
ini menjadi kemesraanku bersama semeru. Semeru tak bersalah.Ini adalah
keinginanku.Dan jika kita sudah berkeinginan dan berusaha, kematian pun tak
dapat menghentikannya.Semeru akan cinta padamu, seperti aku cinta pada
keindahan hidup,” dengan memaksa Wahyu mengucapkan kata terakhirnya malam itu.
Tepat
pukul sebelas malam 18 Mei 2013,sehari sebelum hari ulangtahunnya. Wahyu
menghembus nafas terakhirnya di pangkuan kakaknya.Sebuah perjuangan yang
berakhir. Setelah asap itu reda, Lukman bersama pendaki lain yang menolongnya
membawa jenazah wahyu turun ke Ranupani, menerjang dinginnya udara malam itu.
Mahameru berduka malam itu.Kehilangan sosok kekasih yang merindu akan
puncaknya. Mahameru berduka.Mahameru menahan tangis.
~ ~ ~
Satu
tahun kemudian…
“mengheningkan
cipta selesai!” salah satu pemimpin rombongan itu selesai memimpin doa didepan
salah satu prasasti di Arcopodo. Prasasti itu bertuliskan:
“kekasih
yang dirindukan Mahameru”
Wahyu
Fadhli Pribadi
Lahir :
19 Mei 1996
Wafat :
18 Mei 2013
Rombongan
itu merupakan kawan-kawan Wahyu dari Jombang.Setelah mereka lulus, sengaja
mereka ingin mengenang salah satu sahabat terbaik mereka.
Selamat jalan… kemesraanmu bersama Mahameru akan selalu dikenang.
By: Wahyu Fadhli Pribadi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar