Aku hanya seonggok tubuh yang terkapar dengan
penyakit liverku. Yang
bisa aku lakukan saat ini adalah pasrah, pasrah
akan takdirku dan cerita singkat hidupku. Aku
hanyalah gadis biasa berumur 16 tahun entah aku bisa menjumpai sweet seventeen
atau tidak.
Saat aku membuka mata, tak ku temui seorang pun di kamarku. Yang ada hanyalah sebuah infus, obat-obatan dan
berbagai macam peralatan yang cukup asing
buatku.
Aku duduk
melamun menatap langit-langit kamar yang bermotif catur. Fikiranku
melayang pada kisah cinta masa laluku. Tak
ku sangka ending dari ceritaku berakhir dengan cucuran air mata. Aku terjatuh pada sebuah
lubang yang juram, hanya
karena sebuah trouble percintaan. Aku kira, aku dan dia memiliki
sebuah ikatan yang kuat, kuat dalam menghadapi lika-liku hubungan ini, tapi
semua tak seperti apa yang aku bayangkan.
Semua telah berakhir di ujung duka.
Ku terbenam dalam kenangan
lamaku saat pertama kali dia masuk dalam kehidupanku. Pertama kali aku
mengenalnya,
saat itu aku masih duduk di kelas 5 SD dimana aku belum mengenal apa itu cinta. Aku adalah
anak pindahan yang
tinggal di sebuah desa
kecil di pelosok kota Jombang. Aku memandangnya,
dia anak yang baik dan mudah bergaul, kami pun menjadi akrab
sampai duduk di kelas
6 SD. Dialah
Vino, seseorang yang tanpa seizinku
menyusup kedalam peredaran darahku. Awalnya aku tak pernah menyadari akan hal itu karena aku
memang belum mengenal apa itu
cinta, yang aku rasakan hanyalah perasan nyaman saat
bersanding dengannya.
Waktu pun terus berjalan tibalah pada sebuah keadaan
yang membuatku untuk merealisasikan
pilihan masa depanku, aku
harus pergi merantau ke kota lain jauh dari orang tua, teman-teman juga Vino. Rasanya berat
untuk meninggalkannya. Dan saat itulah aku baru sadar dia benar-benar merajai hatiku.
Aku pergi ke pesantren
dengan tekad yang bulat, aku
titipkan cintaku kepada sang penggenggam cinta, aku hanya bisa berdo’a
agar semuanya bisa berlanjut dengan kebahagian.
Selama 3 tahun aku di pesantren. Tak terasa liburan
bulan suci telah tiba, entah
sudah berapa lama aku menunggu hari kepulanganku. Aku benar-benar rindu semuanya
rumahku, orang
tuaku, teman-teman dan juga dia.
Setiap bulan Ramadhan menjadi sebuah kebiasaan rutin
tadarrus di desaku sesudah sholat tarowih, yaitu tadarruz Al-qur’an. Kegiatan ini diikuti oleh semua orang mulai
dari orang tua, anak-anak
dan teman-temanku, salah satu dari temanku adalah Vino, yang sekarang menjadi bintang hatiku. Lantunan
ayat-ayat Al-quran menggema
sepanjang malam, membuat
ramadhan terasa semakin hidup. Ketika giliranku membaca Al-quran, aku tak sadar ternyata
ada sesorang yang memperhatikanku, dia seperti penuh dengan tanda tanya.
Mungkin karena rasa penasarannya yang begitu besar dia akhirnya memberanikan
diri untuk menghampiriku. Dia menghampiriku dengan dahi yang berkerut dan
didalam hatinya bertanya-tanya
siapakah dia? Karena aku merasa ada
seseorang yang sedang memperhatikanku, aku pun menoleh saat itu pandangan kami
pun berada dalam beberapa detik. “ow… Ternyata Fita aku kira siapa?” sapa Vino. ”Vino ternyata kamu
yang dari tadi memperhatikanku“ sahutku. Kamu telihat sangat
cantik Fit, sampai-sampai aku tidak
mengenalimu” katanya. Dari dialog singkat itu kami kembali akrab.
Waktu terus bergulir berganti dengan Idul Fitri tapi
aku dengan Vino
bertemu hanya sebatas minta maaf setelah itu kami sibuk dengan kegiatan kami
sendiri-sendiri hingga idul
fitri pun berakhir.
Beberapa hari setelah hari raya idul fitri aku
menemui hari yang begitu bersejarah dalam hidupku. Saat itu, aku, Vino dan teman-temanku pergi jalan-jalan. Di pagi hari matahari
belum tampak cahayanya, udara
dingin pun
masih terasa, tapi
bagiku itu bukan masalah, aku tidak merasakanya karena hawa dingin itu benar-benar tertutupi oleh rasa bahagiaku.
Aku benar-benar
tidak menyangka ditengah
perjalanan saat aku dan Vino bercanda tiba-tiba dia menyelipkan
sebuah kata yang membuat hatiku berdebar kencang.
Dia mengungkapan perasaan cintanya kepadaku,
aku tidak bisa mendefinisikan perasaanku saat itu, aku benar-benar bahagia ternyata
cintaku tidak bertepuk sebelah tangan.
Tanpa fikir panjang aku
langsung menerimanya. Hari-hariku
berjalan tak seperti biasanya.sampai-sampai aku lupa dengan penyakitku. Hingga
akhirnya aku harus
kembali ke penjara
suci untuk mencari lautan ilmuku.
***
Pada suatu hari aku mendapat kabar yang tidak mengenakkan
dari sahabatku, dia sering membawa cewek lain ke rumahnya. Ketika
ditanyai oleh sahabatku dia selalu beralasan bahwa cewek itu adalah temannya, tetapi Vino dan cewek itu
sering terlihat bersama. Awalnya aku tidak
percaya dengan omongan sahabatku itu karena aku tidak tau pasti kenyataannya, karena aku fikir dia
adalah cowok yang setia untuk aku. Liburan semester 1 pun tiba entah kenapa
tanpa ada sebab Vino
mengajakku bertemu. Awalnya tidak berfikir macam-macam kenapa Vino
mengajakku bertemu, saat aku berhadapan langsung dengan dia aku melihat gelagak
aneh pada dirinya, tidak seperti biasanya,
pertemuan kali ini dia
bersikap dingin. Awalnya
kami bersenda gurau seperti
biasanya, sama
seperti biasannya dan sama seperti pertama kali dia menembakku dia menyelipkan
sebuah kata-kata
yang membuat ku penasaran begitu besar. “Honey maafin aku ya? Mungkin kata-kataku menyakitkan
hatimu”. katanya,
hatiku pun semakin tak karuan keringat
dinginku pun keluar berkecucuran. ”Honey
maafin aku mungkin hubungan kita cukup sampai disini apalagi posisi kamu sama
aku begitu jauh untuk berhubungan dan sekali lagi aku minta maaf karena harus
mengakhiri hubungan kita”. Aku hanya terlunglai lemas, kata-katanya bagaikan
pisau yang menusukku bertubi-tubi, cintaku yang kuharapkan kini telah
kandas seakan-akan
langit itu pun runtuh menimpaku, menghancurkan
semua harapanku kepada dia.seakan-akan ribuan besi menimpaku mengahancurkan
semua organ tubuhku. Aku pun menahan sakit yang aku ketahui bulan lalu .
***
Aku menghela nafas
panjang bayangannya tidak pernah bisa aku lupakan dan bayangan itulah yang
selalu membuatku tersiksa.
Hari demi hari penyakitku bukannya membaik tetapi
semakin parah aku tak kuat menahan sakitku hingga aku tak sadarkan diri 2 hari
berlalu hanya tangis dan kesedihan dari orang tuaku karena aku tak kunjung
sadar. Pada hari ke 3 aku
diberi kesempatan oleh Tuhan
untuk melihat wajah terakhir
orang tuaku. Ketika aku membuka mata, kudapati orang tuaku
disampaingku dengan derasan air mata. “Ma.. pa.. maafin Fita, karena Fita nggak bisa mewujudkan
harapan mama dan papa, dan mungkin umur Fita tinggal beberapa
detik lagi, ma.. pa maafin Fita karena selalu buat
marah, sakit
hati dan kecewa pada mama dan papa, ma..
pa ikhlasin kepergian Fita
dan do’akan selalu Fita
ya ma.. pa?????” ucapku dengan tetesan
air mata. Setelah itu malaikat menjemputku.
Membawaku pergi
selamanya dan saat itu juga bersamaan dengan menutup mataku dan tetesan air
mataku.
1 komentar:
Assalamu alaikum
Menurutku blogmu isinya bagus!
Kalau ada waktu, mampir ke blogku ya ^_^
Posting Komentar