Minggu, 06 Oktober 2013

Genggaman Cintamu



Aku hanya seonggok tubuh yang terkapar dengan penyakit liverku. Yang bisa aku lakukan saat ini adalah pasrah, pasrah akan takdirku dan cerita singkat hidupku. Aku hanyalah gadis biasa berumur 16 tahun entah aku bisa menjumpai sweet seventeen atau tidak.
Saat aku membuka mata, tak ku temui seorang pun di kamarku. Yang ada hanyalah sebuah infus, obat-obatan dan berbagai macam peralatan yang cukup asing buatku.
Aku duduk melamun menatap langit-langit kamar yang bermotif catur. Fikiranku melayang pada kisah cinta masa laluku. Tak ku sangka ending dari ceritaku berakhir dengan cucuran air mata. Aku terjatuh pada sebuah lubang yang juram, hanya karena sebuah trouble percintaan. Aku kira, aku dan dia memiliki sebuah ikatan yang kuat, kuat dalam menghadapi lika-liku hubungan ini, tapi semua tak seperti apa yang aku bayangkan. Semua telah berakhir di ujung duka.

Ku terbenam dalam kenangan lamaku saat pertama kali dia masuk dalam kehidupanku. Pertama kali aku mengenalnya, saat itu aku masih duduk di kelas 5 SD dimana aku belum mengenal apa itu cinta. Aku adalah anak pindahan yang tinggal di sebuah desa kecil di pelosok kota Jombang. Aku memandangnya, dia anak yang baik dan mudah bergaul, kami pun menjadi akrab sampai duduk di kelas 6 SD. Dialah Vino, seseorang yang tanpa seizinku menyusup kedalam peredaran darahku. Awalnya aku tak pernah menyadari akan hal itu karena aku memang belum mengenal apa itu cinta, yang aku rasakan hanyalah perasan nyaman saat bersanding dengannya.
Waktu pun terus berjalan tibalah pada sebuah keadaan yang membuatku untuk merealisasikan pilihan masa depanku, aku harus pergi merantau ke kota lain jauh dari orang tua, teman-teman juga Vino. Rasanya berat untuk meninggalkannya. Dan saat itulah aku baru sadar dia benar-benar merajai hatiku. Aku pergi ke pesantren dengan tekad yang bulat, aku titipkan cintaku kepada sang penggenggam cinta, aku hanya bisa berdo’a agar semuanya bisa berlanjut dengan kebahagian.
Selama 3 tahun aku di pesantren. Tak terasa liburan bulan suci telah tiba, entah sudah berapa lama aku menunggu hari kepulanganku. Aku benar-benar rindu semuanya rumahku, orang tuaku, teman-teman dan juga dia.
Setiap bulan Ramadhan menjadi sebuah kebiasaan rutin tadarrus di desaku sesudah sholat tarowih, yaitu tadarruz Al-qur’an. Kegiatan ini diikuti oleh semua orang mulai dari orang tua, anak-anak dan teman-temanku, salah satu dari temanku adalah Vino, yang sekarang menjadi bintang hatiku. Lantunan ayat-ayat Al-quran menggema sepanjang malam, membuat ramadhan terasa semakin hidup. Ketika giliranku membaca Al-quran, aku tak sadar ternyata ada sesorang yang memperhatikanku, dia seperti penuh dengan tanda tanya. Mungkin karena rasa penasarannya yang begitu besar dia akhirnya memberanikan diri untuk menghampiriku. Dia menghampiriku dengan dahi yang berkerut dan didalam hatinya bertanya-tanya siapakah dia? Karena aku merasa ada seseorang yang sedang memperhatikanku, aku pun menoleh saat itu pandangan kami pun berada dalam beberapa detik. “ow… Ternyata Fita aku kira siapa?” sapa Vino. ”Vino ternyata kamu yang dari tadi memperhatikanku“ sahutku. Kamu telihat sangat cantik Fit, sampai-sampai aku tidak mengenalimu” katanya. Dari dialog singkat itu kami kembali akrab.
Waktu terus bergulir berganti dengan Idul Fitri tapi aku dengan Vino bertemu hanya sebatas minta maaf setelah itu kami sibuk dengan kegiatan kami sendiri-sendiri hingga idul fitri pun berakhir.
Beberapa hari setelah hari raya idul fitri aku menemui hari yang begitu bersejarah dalam hidupku. Saat itu, aku, Vino dan teman-temanku pergi jalan-jalan. Di pagi hari matahari belum tampak cahayanya, udara dingin pun masih terasa, tapi bagiku itu bukan masalah, aku tidak merasakanya karena hawa dingin itu benar-benar tertutupi oleh rasa bahagiaku. Aku benar-benar tidak menyangka ditengah perjalanan saat aku dan Vino bercanda tiba-tiba dia menyelipkan sebuah kata yang membuat hatiku berdebar kencang.
Dia mengungkapan perasaan cintanya kepadaku, aku tidak bisa mendefinisikan perasaanku saat itu, aku benar-benar bahagia ternyata cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Tanpa fikir panjang aku langsung menerimanya. Hari-hariku berjalan tak seperti biasanya.sampai-sampai aku lupa dengan penyakitku. Hingga akhirnya aku harus kembali ke penjara suci untuk mencari lautan ilmuku.
***
Pada suatu hari aku mendapat kabar yang tidak mengenakkan dari sahabatku, dia sering membawa cewek lain ke rumahnya. Ketika ditanyai oleh sahabatku dia selalu beralasan bahwa cewek itu adalah temannya, tetapi Vino dan cewek itu sering terlihat bersama. Awalnya aku tidak percaya dengan omongan sahabatku itu karena aku tidak tau pasti kenyataannya, karena aku fikir dia adalah cowok yang setia untuk aku. Liburan semester 1 pun tiba entah kenapa tanpa ada sebab Vino mengajakku bertemu. Awalnya tidak berfikir macam-macam kenapa Vino mengajakku bertemu, saat aku berhadapan langsung dengan dia aku melihat gelagak aneh pada dirinya, tidak seperti biasanya, pertemuan kali ini dia bersikap dingin. Awalnya kami bersenda gurau seperti biasanya, sama seperti biasannya dan sama seperti pertama kali dia menembakku dia menyelipkan sebuah kata-kata yang membuat ku penasaran begitu besar. “Honey maafin aku ya? Mungkin kata-kataku menyakitkan hatimu”. katanya, hatiku pun semakin tak karuan keringat dinginku pun keluar berkecucuran. ”Honey maafin aku mungkin hubungan kita cukup sampai disini apalagi posisi kamu sama aku begitu jauh untuk berhubungan dan sekali lagi aku minta maaf karena harus mengakhiri hubungan kita”. Aku hanya terlunglai lemas, kata-katanya bagaikan pisau yang menusukku bertubi-tubi, cintaku yang kuharapkan kini telah kandas seakan-akan langit itu pun runtuh menimpaku, menghancurkan semua harapanku kepada dia.seakan-akan ribuan besi menimpaku mengahancurkan semua organ tubuhku. Aku pun menahan sakit yang aku ketahui bulan lalu .
***
Aku menghela nafas panjang bayangannya tidak pernah bisa aku lupakan dan bayangan itulah yang selalu membuatku tersiksa.
Hari demi hari penyakitku bukannya membaik tetapi semakin parah aku tak kuat menahan sakitku hingga aku tak sadarkan diri 2 hari berlalu hanya tangis dan kesedihan dari orang tuaku karena aku tak kunjung sadar. Pada hari ke 3 aku diberi kesempatan oleh Tuhan untuk melihat wajah terakhir orang tuaku. Ketika aku membuka mata, kudapati orang tuaku disampaingku dengan derasan air mata. “Ma.. pa.. maafin Fita, karena Fita nggak bisa mewujudkan harapan mama dan papa, dan mungkin umur Fita tinggal beberapa detik lagi, ma.. pa maafin Fita karena selalu buat marah, sakit hati dan kecewa pada mama dan papa, ma.. pa ikhlasin kepergian Fita dan do’akan selalu Fita ya ma.. pa?????” ucapku dengan tetesan air mata. Setelah itu malaikat menjemputku. Membawaku pergi selamanya dan saat itu juga bersamaan dengan menutup mataku dan tetesan air mataku.

1 komentar:

koekoeh gesang mengatakan...



Assalamu alaikum
Menurutku blogmu isinya bagus!

Kalau ada waktu, mampir ke blogku ya ^_^