Minggu, 06 Oktober 2013

Tangisan Hatiku



Bruakkkk , , , ,
            Lagi-lagi benda tak bersalah terlempar, menjadi sasaran utama atas kemarahan Dion. Si sulung dari dua bersaudara itu menjadi depresi semenjak datang masalah yang menimpa keluarganya. Ia pun tak pernah masuk kuliah, ketika jam menunujukkan waktu ayahnya pulang dari kerja, ia segera keluar rumah dan berjalan entah kemana, tak peduli ayahnya pulang atau tidak, yang terpenting baginya adalah bisa menenangkan diri dan tidak melihat ayahnya masuk rumah. Sedangkan adiknya kini menduduki bangku SMP di sekolah berasrama yang berjarak 20 km dari rumahnya.
            “Perhatian, kepada saudara Diana Malika Dewi untuk segera menuju ke Darul Mufti sekarang juga karena ada keluarga yang ingin bertemu.” Terdengar suara dari speaker yang mengejutkan Dian.
            “Dian, kamu dijenguk tuh.” Salah seorang teman mengagetkan Dian.
            “Ah, gak mungkin, ibu bilang kalau aku di jenguk tiga bulan sekali, salah orang mungkin” papar Dian pada temannya.
Hingga akhirnya ada panggilan kedua dengan nama yang sama dan terdengar jelas di telinga Dian bahwa namanya lah yang disebut dalam panggilan tadi. Dengan rasa penasaran dian melangkahkan kakinya menuju Darul Mufti . Seisi ruangan pun telah dilihatnya, namun dia tidak melihat satupun keluarga yang menjenguknya.
“Hai……” dari kejauhan terlihat seseorang yang menyapanya dan suara itu tidak asing lagi baginya.
“Kakak” sapaDian.
“Kakak ada apa kesini? Trus mama sama papa kok gak ikut kesini kak?” Dian lanjut bertanya pada kakaknya.
“Mmm, tadi waktu kuliah tidak ada dosennya, jadi daripada pulang kerumah lagi kakak main saja kesini” Dion sengaja berbohong untuk menutupi permasalahan di rumah.
“Ohh. Ehm….kak, Dian boleh Tanya sesuatu ?”
“Iya, mau Tanya apa dian ?”

“Teman-teman Dian bilang kalau papa sudah meninggal karena kecelakaan pesawat terbang sebulan lalu dan mereka bilang kalau dapat informasi dari ibunya. aku sempat tanya mama dulu di telfon,tapi mama bilang kalau ayah sibuk dengan urusan kantor diluar kota, sebenarnya apa yang terjadi kak? Lalu kenapa ponsel papa tidak bisa dihubungi ?”
“Mama benar Dian, papa sangat sibuk, kamu percaya sama kakak, mungkin yang dibilang teman-temanmu itu cuma gossip saja.”
Tak terasa waktu kunjungan telah habis, Dion berpamitan pulang pada adiknya.

Sesampainya di rumah seperti biasa Dion bercerita tentang aktivitas kesehariannya pada mama.
“Seharusnya kamu bilang dulu sama mama kalau mau ke asrama adikmu” tegur mama pada Dion.
“Iya ma, Dion minta maaf”
Mama mengerti dengan sifat anak sulungnya itu, Mama pun hanya bisa berkata sabar dan sabar untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Tak lama kemudian adzan maghrib berkumandang, Dion dan mama langsung bergegas menuju musholla.

Sebulan kemudian, liburan sekolah pun tiba, setelah melaksanakan ujian semester ganjil dan menerima raport, akhirnya Dian bisa pulang kerumah.
“Ma…..” rengek Dian.
“Iya, ada apa sayang ?”
“Sudah satu minggu Dian dirumah, tapi Dian gak pernah ketemu papa, padahal 5 hari lagi Dian harus kembali ke asrama, Dian sangat rindu sama papa ma. Apa benar kalau papa sudah meninggal ma?”
Tak terasa pertanyaan putrinya membuat sebulir airmata jatuh mengalir di pipi sang mama. Mama hanya tersenyum menanggapi putrinya dan berkata “Gak sayang, papa cuma…………” belum selesai mama berbicara terdengar suara ketukan pintu.
“Pasti itu papa, ” Dian kegirangan
“Bukan sayang, biar mama yang buka pintunya”
Tanpa menghiraukan mama, Dian langsung berlari menuju pintu depan, Mama pun mengikutinya.
“Dian…..” papa tercengang melihat putrinya dirumah, dan papa memarahi mama karena tidak memberitahu kalau Dian sedang ada di rumah.
“Papa jahat” kalimat yang terlontarkan oleh Dian ketika melihat seorang wanita berdiri menyandarkan kepala di pundak papanya. Dian hanya bisa menangis dalam pelukan mamanya. Ketika akan meninggalkan rumah, papa bertemu dengan Dion yang baru saja datang dari kuliahnya.
“Kau, apa kau tidak punya rasa malu menginjakkan kaki di rumah ini?” seketika Dion meluapkan kemarahan pada papanya yang selama ini terpendam.
“Dion, apa mama mu yang telah mengajari kamu jadi anak yang kurang ajar dan tidak sopan santun seperti ini” sahut papa.
            “Aku seperti ini karena kau yang mengajariku, apa dengan membawa perempuan jalang ini kau bisa dikatakan punya sopan santun? Meskipun banyak orang menghormatimu tapi dimataku kau lebih buruk dari perampok sekalipun, bahkan kau tidak punya hati nurani kepada kami, apa kurang kesabaran mama selama ini menghadapimu?”
            Mendengar penjelasan anaknya, papa langsung menamparnya, karena tidak terima dengan tamparan papa, Dion membalasnya dengan menyeret perempuan itu keluar dari rumah, seketika itu papa pergi lagi dari rumah bersama perempuan itu.
            “Papa……” teriak Dian.
            “Apa tidak cukup penderitaan kami selama ini pa? Selama 4 bulan Dian menunggu kabar dari papa, Dian tidak peduli dengan gossip bahwa papa telah meninggal, Dian selalu berdoa buat kebaikan papa, tapi kenapa papa tidak pernah mengerti bagaimana penderitaan kami, penderitaan mama, apa kekurangan mama? Kenapa papa lebih memilih wanita tak berkerudung ini daripada mama. Papa memang tidak punya hati nurani”  Dian pun lari setelah mengungkapkan isi hatinya. Namun tidak cukup mendengar tangisan hati anak-anaknya, papa tetap pergi dengan perempuan itu.

            Setelah kejadian tersebut, Dian, mama dan kakaknya telah sepakat untuk melupakan papanya, tak terasa waktu liburannya telah usai, ia harus segera kembali ke asrama.

            5 bulan kemudian……
            Dian telah menyelesaikan ujian semester genapnya, acara perpisahan dan kenaikan kelas pun sudah di depan mata. Dian memberitahukan undangan acara perpisahan tersebut kepada mamanya melalui telepon, namun mama tidak bisa hadir karena harus menemani neneknya yang sakit. Meskipun kecewa namun dian mengerti keadaan mamanya.
           
Tibalah acara perpisahan tersebut, dian hanya duduk sendiri tanpa didampingi orangtua seperti teman lainnya. Tak lama kemudian seseorang mengagetkannya.
“Kakak……”
“Lihat kakak sama siapa…” dion menyuruh adiknya menoleh ke belakangnya.
“Mama…..papa…” Dian seolah tak percaya melihat mama dan papanya bersatu kembali.
“Maafin papa ya sayang, papa mengaku salah, ternyata perempuan itu membohongi papa, dia sudah memiliki banyak suami, namun semua suaminya menceraikannya, dia hanya memanfaatkan harta mereka, termasuk papa, dan dia berkencan dengan pria lain meskipun sudah memiliki suami.” Akhirnya papa sadar dan memaparkan semuanya pada dian.
Dian hanya mengangguk dan tersenyum, betapa bahagianya dian ketika itu karena papanya telah kembali dalam keluarganya.
Tiba saat pembacaan juara umum tingkat SMP dan SMA se-yayasan asrama. Juara ketiga dan kedua pun telah di bacakan, hati Dian bergetar tak karuan, siapa gerangan yang akan mendapat juara umum pertama tahun ini.
“Juara umum pertama, jatuh pada ananda…….Diana Malika Dewi.”
Lengkap sudah kebahagiaan dian, kini teman-temannya tidak bisa mengatakan berbagai isu tentang ayahnya. Karena mereka sudah dengan jelas melihat Dian naik ke panggung bersama ayahnya.

Tidak ada komentar: