Bruakkkk , , , ,
Lagi-lagi
benda tak bersalah terlempar, menjadi sasaran utama atas kemarahan Dion. Si
sulung dari dua bersaudara itu menjadi depresi semenjak datang masalah yang
menimpa keluarganya. Ia pun tak pernah masuk kuliah, ketika jam menunujukkan
waktu ayahnya pulang dari kerja, ia segera keluar rumah dan berjalan entah
kemana, tak peduli ayahnya pulang atau tidak, yang terpenting baginya adalah
bisa menenangkan diri dan tidak melihat ayahnya masuk rumah. Sedangkan adiknya
kini menduduki bangku SMP di sekolah berasrama yang berjarak 20 km dari
rumahnya.
“Perhatian,
kepada saudara Diana Malika Dewi untuk segera menuju ke Darul Mufti sekarang juga karena ada keluarga yang ingin bertemu.”
Terdengar suara dari speaker yang mengejutkan Dian.
“Dian,
kamu dijenguk tuh.” Salah seorang teman mengagetkan Dian.
“Ah,
gak mungkin, ibu bilang kalau aku di jenguk tiga bulan sekali, salah orang
mungkin” papar Dian pada temannya.
Hingga akhirnya
ada panggilan kedua dengan nama yang sama dan terdengar jelas di telinga Dian
bahwa namanya lah yang disebut dalam panggilan tadi. Dengan rasa penasaran dian
melangkahkan kakinya menuju Darul Mufti .
Seisi ruangan pun telah dilihatnya, namun dia tidak melihat satupun
keluarga yang menjenguknya.
“Hai……” dari
kejauhan terlihat seseorang yang menyapanya dan suara itu tidak asing lagi
baginya.
“Kakak” sapaDian.
“Kakak ada apa
kesini? Trus mama sama papa kok gak ikut kesini kak?” Dian lanjut bertanya pada
kakaknya.
“Mmm, tadi waktu
kuliah tidak ada dosennya, jadi daripada pulang kerumah lagi kakak main saja
kesini” Dion sengaja berbohong untuk menutupi permasalahan di rumah.
“Ohh. Ehm….kak,
Dian boleh Tanya sesuatu ?”
“Iya, mau Tanya
apa dian ?”
“Teman-teman Dian
bilang kalau papa sudah meninggal karena kecelakaan pesawat terbang sebulan
lalu dan mereka bilang kalau dapat informasi dari ibunya. aku sempat tanya mama
dulu di telfon,tapi mama bilang kalau ayah sibuk dengan urusan kantor diluar
kota, sebenarnya apa yang terjadi kak? Lalu kenapa ponsel papa tidak bisa
dihubungi ?”
“Mama benar Dian,
papa sangat sibuk, kamu percaya sama kakak, mungkin yang dibilang teman-temanmu
itu cuma gossip saja.”
Tak terasa waktu kunjungan telah habis, Dion
berpamitan pulang pada adiknya.
Sesampainya di
rumah seperti biasa Dion bercerita tentang aktivitas kesehariannya pada mama.
“Seharusnya kamu
bilang dulu sama mama kalau mau ke asrama adikmu” tegur mama pada Dion.
“Iya ma, Dion
minta maaf”
Mama mengerti
dengan sifat anak sulungnya itu, Mama pun hanya bisa berkata sabar dan sabar
untuk menenangkan pikirannya yang kacau. Tak lama kemudian adzan maghrib
berkumandang, Dion dan mama langsung bergegas menuju musholla.
Sebulan
kemudian, liburan sekolah pun tiba, setelah melaksanakan ujian semester ganjil
dan menerima raport, akhirnya Dian bisa pulang kerumah.
“Ma…..” rengek
Dian.
“Iya, ada apa
sayang ?”
“Sudah satu
minggu Dian dirumah, tapi Dian gak pernah ketemu papa, padahal 5 hari lagi Dian
harus kembali ke asrama, Dian sangat rindu sama papa ma. Apa benar kalau papa
sudah meninggal ma?”
Tak terasa
pertanyaan putrinya membuat sebulir airmata jatuh mengalir di pipi sang mama.
Mama hanya tersenyum menanggapi putrinya dan berkata “Gak sayang, papa
cuma…………” belum selesai mama berbicara terdengar suara ketukan pintu.
“Pasti itu papa,
” Dian kegirangan
“Bukan sayang,
biar mama yang buka pintunya”
Tanpa
menghiraukan mama, Dian langsung berlari menuju pintu depan, Mama pun
mengikutinya.
“Dian…..” papa
tercengang melihat putrinya dirumah, dan papa memarahi mama karena tidak
memberitahu kalau Dian sedang ada di rumah.
“Papa jahat” kalimat
yang terlontarkan oleh Dian ketika melihat seorang wanita berdiri menyandarkan
kepala di pundak papanya. Dian hanya bisa menangis dalam pelukan mamanya. Ketika
akan meninggalkan rumah, papa bertemu dengan Dion yang baru saja datang dari
kuliahnya.
“Kau, apa kau
tidak punya rasa malu menginjakkan kaki di rumah ini?” seketika Dion meluapkan
kemarahan pada papanya yang selama ini terpendam.
“Dion, apa mama
mu yang telah mengajari kamu jadi anak yang kurang ajar dan tidak sopan santun
seperti ini” sahut papa.
“Aku
seperti ini karena kau yang mengajariku, apa dengan membawa perempuan jalang
ini kau bisa dikatakan punya sopan santun? Meskipun banyak orang menghormatimu
tapi dimataku kau lebih buruk dari perampok sekalipun, bahkan kau tidak punya
hati nurani kepada kami, apa kurang kesabaran mama selama ini menghadapimu?”
Mendengar
penjelasan anaknya, papa langsung menamparnya, karena tidak terima dengan
tamparan papa, Dion membalasnya dengan menyeret perempuan itu keluar dari
rumah, seketika itu papa pergi lagi dari rumah bersama perempuan itu.
“Papa……”
teriak Dian.
“Apa
tidak cukup penderitaan kami selama ini pa? Selama 4 bulan Dian menunggu kabar
dari papa, Dian tidak peduli dengan gossip bahwa papa telah meninggal, Dian
selalu berdoa buat kebaikan papa, tapi kenapa papa tidak pernah mengerti
bagaimana penderitaan kami, penderitaan mama, apa kekurangan mama? Kenapa papa
lebih memilih wanita tak berkerudung ini daripada mama. Papa memang tidak punya
hati nurani” Dian pun lari setelah
mengungkapkan isi hatinya. Namun tidak cukup mendengar tangisan hati
anak-anaknya, papa tetap pergi dengan perempuan itu.
Setelah
kejadian tersebut, Dian, mama dan kakaknya telah sepakat untuk melupakan
papanya, tak terasa waktu liburannya telah usai, ia harus segera kembali ke
asrama.
5
bulan kemudian……
Dian
telah menyelesaikan ujian semester genapnya, acara perpisahan dan kenaikan
kelas pun sudah di depan mata. Dian memberitahukan undangan acara perpisahan
tersebut kepada mamanya melalui telepon, namun mama tidak bisa hadir karena
harus menemani neneknya yang sakit. Meskipun kecewa namun dian mengerti keadaan
mamanya.
Tibalah acara
perpisahan tersebut, dian hanya duduk sendiri tanpa didampingi orangtua seperti
teman lainnya. Tak lama kemudian seseorang mengagetkannya.
“Kakak……”
“Lihat kakak
sama siapa…” dion menyuruh adiknya menoleh ke belakangnya.
“Mama…..papa…”
Dian seolah tak percaya melihat mama dan papanya bersatu kembali.
“Maafin papa ya
sayang, papa mengaku salah, ternyata perempuan itu membohongi papa, dia sudah
memiliki banyak suami, namun semua suaminya menceraikannya, dia hanya
memanfaatkan harta mereka, termasuk papa, dan dia berkencan dengan pria lain
meskipun sudah memiliki suami.” Akhirnya papa sadar dan memaparkan semuanya
pada dian.
Dian hanya
mengangguk dan tersenyum, betapa bahagianya dian ketika itu karena papanya
telah kembali dalam keluarganya.
Tiba saat
pembacaan juara umum tingkat SMP dan SMA se-yayasan asrama. Juara ketiga dan
kedua pun telah di bacakan, hati Dian bergetar tak karuan, siapa gerangan yang
akan mendapat juara umum pertama tahun ini.
“Juara umum pertama,
jatuh pada ananda…….Diana Malika Dewi.”
Lengkap sudah
kebahagiaan dian, kini teman-temannya tidak bisa mengatakan berbagai isu tentang
ayahnya. Karena mereka sudah dengan jelas melihat Dian naik ke panggung bersama
ayahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar