Ayah terus mengangguk mendengarkan petuah Pak polisi.
Sesekali mereka tertawa bercanda. Aku yang duduk disamping ayah menimpali
dengan senyuman. Hari ini aku dan ayah ke kantor polisi. Aku yang baru berusi
18 tahun pada lusa kemarin ngotot minta dibuatkan Surat Izin Mengemudi
atau biasa orang menyebutnya SIM. Sebetulnya, sudah setahun yang lalu ketika
usiaku 17 tahun, aku meminta ayah membuatkan SIM untukku. Sedari SMP aku lihai
mengendarai motor dan kerapkali memenangkan balapan liar. Tentunya tanpa
sepengetahuan ayah. Ayah hanya tahu aku mulai bias mengendarai motor pada tahun
ini dan aku tidak pernah sedikitpuk kepergok bahwa selama ini aku menyewa
motor. Entah apa alas an ayah sangat protektif terhadap putranya yang cukup
dewasa ini. Terkadang itu sangat menebalkan.
“Stop! Belok kiri tak boleh langsung. Ini salah satu
peraturan baru dalam UU Lalu Lintas pasal 112 ayat 3,” ujar Pak polisi
membuatku menyimak kembali penjelasan tentang berbagai peraturan lalu lintas.
Lagi. Lengkap dengan pasal dan undang-undangnya kepadaku, si pemilik SIM baru.
Kalau dipikir-pikir, aku sangat bodoh ketika menyimak Pak
polisi itu karena aku baru mengetahui bahwa garis putus-putus yang ditengah
jalan itu namanya marka. Lebih kaget lagi karena banyaknya symbol lalu lintas
yang baru kuketahui seperti symbol tanjakan, symbol beri kesempatan, dan
perbedaan antara symbol tikungan dan symbol persimpangan.
Ayah dan Pak polisi akhirnya menyudahi ramah tamah mereka.
Di luar kantor polisi aku dikejutkan karena ayah mengajakku motor Ninja
terbaru. Pastinya milik ayah, karena jelas-jelas ayah mengeluarkan kunci motor
itu dari saku jaketnya. Entah kemana motor lama ayah yang kami naiki tadi.
“Ayo naik! Maotor baru, nih. Kita jalan-jalan,” ajak ayah.
Ditengah rasa kagetku itu, aku menurut saja aakan ayah. Kami
berhenti untukminum Es Degan Durian di pinggir jalan. Di Jalan K.H. Abdurrahman
Wahid.
“Dulu aku dan ibumu juga minum Es
Degan Durian ditempat ini. Dimeja ini,” ayah bercerita sambil menerawang.
“Dia sangat cantik. Waktu itu malam
minggu. Kau yang masih sangat kecil tinggal dirumah bersama nenek,” lanjut
ayah.
“Setelah itu, kami lalu berkeliling
menaiki motor ayah yang baru. Tapi tiba-tiba nenekmu menelpon. Dia bilang kau
jatuh ke lantai dan mengalami banyak pendarahan. Betapa paniknya kami,” kata
ayah lalu menyeruput Es Degan Duriannya.
“Dalam perjalanan tak jauh, keadaan
kami panik. Truk itu dating dari arah timur simpang tiga, menyerempet kami yang
melaju dari arah barat dan ibumu terlempar jauh sekali. Jauh dari simpang
tiga,” ayah bercerita dan menunjuk simpang tiga tepat didepan kami.
“Tapi aku hanya ingin mengatakan
padamu setelah SIM itu kaudapatkan, kau harus hati-hati,nak. Sepanik apapun
keadaanmu, jangan sampai membuatmu terledor,” kata ayah lagi.
Aku hanya bias menangis.
Membayangkan bagaimana perasaan ayah saat kecelakaannya dan kecelakaanku
terjadi seketika. Dan aku baru tahu ibu menutup matanya dengan seperti ini
“Ayah juga dihukum, dipenjara 6
bulan,” lanjut ayah.
“Ayah maafkan aku,” mulaiku.
“Ayah sudah memaafkanmu dan
balapan-balapan liarmu itu,” entah sejak kapan ayah tahu yang satu itu.
Ayah tertawa aku menunduk malu
menghapus air mataku.
“Ayo kita pulang! Ini kado
ulangtahunmu,” kata ayah sambil bergegas dan melemparkan kunci motor.
Aku membelalak motor Ninja keluaran
terbaru itu untukku? Batinku senang.
“Ayo kamu yang nyetir, nak! Kan,
sudah punya SIM,” kata ayah menyadarkanku dalam bending kagetku. “Dan jangan
lupa UU no. 22 tahun …,”
“Duaribu sembilan!” sahutku
bersemangat menyambung ucapan ayah.
Kami tertawa. Kami hafal
undang-undang tersebut karena di kantor polisi tadi Pak polisi menyebutnya
berkali-kali seakan berseru agar kami menghafalnya.
Aku dan ayah menyusuri jalan K.H.
Abdurrahman Wahid melewati simpang tiga itu. Meresapi kenangan ayah yang seakan
menari-nari didepan mataku dan membayangiku. Aku katakan “Tidak!” dalam
batinku. Itu selaksa kenangan hanya untuk pelajaran, bukan untuk sebuah
bayangan di depan. Ayah memejamkan matanya sedangkan aku mengamati setiap
jengkal jalan.
Aku akhirnya tahu apa yang aku
inginkan aku ingin menjadi pelopor keselamatan berlalu lintas. Dan aku tidak
mau menerima surat merah seperti ayah. Aku janji.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar